Minggu, 09 Februari 2014

Di sebuah kota yang tenang, hidup seorang gadis cantik, namanya Risa. Gadis ini tidak bisa melihat sejak berusia enam tahun, sebuah penyakit menyebabkan kornea matanya rusak. Semenjak saat itu, hari-hari sang gadis terasa gelap. Dia tidak mau bergaul dan sekolah, dia malu karena tidak bisa melihat dunia luar. Orang tua sang gadis akhirnya menyekolahkan putri mereka di rumah. Hingga tiba masa remaja, belum ada satupun panggilan operasi untuk donor kornea. Risa tetap berharap dan berdoa agar suatu saat, dia kembali bisa melihat dunia seperti dulu. Merasakan indahnya senja dan melihat warna-warni bunga yang bermekaran di taman.
Pada suatu hari, sang gadis bertemu dengan seorang pemuda. Mereka berjumpa pertama kali di sebuah taman bunga. Jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin itulah yang dirasakan sang gadis, walaupun dia tidak bisa melihat. Sang pemuda berusia sama dengannya, pemuda baik yang mau menerima sang gadis apa adanya. Pemuda itu melihat ketulusan sekaligus duka pada sang gadis, sehingga dia ingin membahagiakan Risa dengan cintanya.
Seperti orang yang sedang dimabuk cinta, sang pemuda berkali-kali memberikan bunga mawar merah jambu, itu adalah bunga kesukaan Risa. Pemuda itu sangat romantis, dia merangkai kata-kata indah dalam bentuk puisi cinta. Dia menuliskannya dalam huruf-huruf braille. Sang pemuda juga selalu memberi semangat pada Risa, suatu saat dia pasti bisa melihat lagi, pemuda itu berjanji.
Beberapa bulan berlalu, kabar dari rumah sakit tiba. Risa bisa segera melakukan operasi kornea karena ada donor yang menyerahkan korneanya. Gadis cantik itu langsung bersorak gembira. Selain bisa melihat dunia seperti dulu, dia sangat ingin melihat wajah kekasihnya. Sehingga Risa mempersiapkan operasinya dengan baik dan memasrahkan hasilnya yang terbaik pada Tuhan.
Operasi itu berhasil, Risa harus beradaptasi dengan cahaya selama beberapa minggu sampai dia diperbolehkan berjalan-jalan seorang diri. Sejak masa operasi dan pemulihan, Risa belum berjumpa dengan sang pemuda. Rasa rindu memuncak dan mereka berjanji untuk bertemu di sebuah cafe romantis yang sangat nyaman.
Saat bertemu dengan sang pemuda, Risa mengalami kekecewaan. Ternyata pemuda itu buta, sama seperti dirinya sebelum operasi. Gadis cantik itu langsung mempertimbangkan masa depannya jika terus berhubungan dengan sang pemuda. Bagaimana dia bisa hidup dengan laki-laki yang buta, sedangkan hidup memerlukan banyak uang. Risa pernah buta, dan dia merasa kesempatannya untuk berkarya dan menghasilkan uang lebih sempit. Akhirnya Risa memutuskan hubungan dengan sang pemuda. Sang pemuda bisa mengerti dengan keputusan Risa, tanpa rasa kecewa pemuda itu tersenyum dan meninggalkan Risa.
Beberapa hari kemudian, Risa menerima sebuah surat yang bertuliskan huruf braille. Walaupun sudah bisa melihat, Risa masih bisa membaca huruf braille. Gadis itu memejamkan matanya agar sentuhan raba pada tangannya lebih sensitif membaca surat bertuliskan huruf braille tersebut.


Risa kekasihku, maaf jika aku lancang menuliskan surat ini padamu.
Aku tahu, saat ini kita sudah bukan sepasang kekasih, tetapi cintaku masih utuh hanya untukmu. Seperti yang sudah pernah aku katakan dahulu, kamu pasti bisa melihat dunia, senja dan bunga mawar merah jambu kesukaanmu.
Saat kamu membaca surat ini, aku pasti sudah berada di London untuk meneruskan cita-citaku menjadi guru. Aku lebih bisa diterima di negara ini, jadi aku akan menetap selamanya di sini dan mungkin tidak akan bertemu denganmu kembali.
Rasa cinta membuatku tidak bisa membencimu, Risa..
Satu hal yang ingin aku sampaikan, tolong jaga hadiah yang sudah aku berikan padamu. Aku tulus memberikan kornea mataku untukmu.
Jangan menangis, aku tahu kamu gadis yang kuat. Aku belajar banyak darimu Risa, aku juga akan berusaha sekuat dirimu.
Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.

Tetesan air mata jatuh di atas kertas surat. Selama ini Risa tidak pernah tahu siapa yang mendonorkan kornea mata untuknya, pihak rumah sakit merahasiakannya. Sekarang dia tahu siapa orang yang sudah merelakan penglihatan itu untuknya.
Ada penyesalan teramat dalam karena Risa sudah memutuskan hubungan dengan pria yang mau mengorbankan tubuh untuknya. Namun apa daya, sang pria yang pernah menjadi kekasihya itu tidak dapat di temukan. Nasi telah menjadi bubur, kini Risa hanya dapat mendoakan pria yang berbaik hati padanya.

kaki Cerita
-------------
Benar kata orang dahulu, penyesalan selalu datang terlambat. Setiap apa yang kita putuskan tanpa kita renungkan selalu mendatangkan penyesalan. Dan kita juga harus akui bahwa tindakan kita kadangkala selalu membuat kita menyesal dengan keputusan kita. Tuhan telah memberikan hidupnya untuk kita dan DIA rela mati bagi kita. Seperti sang pemuda yang mau mengorbankan matany untuk orang yang dikasihinya, demikian juga Kristus mengorbankan hidupnya untuk kita. Jangan biarkan pengorbanannya Yesus kita buat seperti Risa. Oleh sebab itu, jika ingin mengambil keputusan alangkah baiknya kita renungkan dulu dan berdoa apa keputusan kita itu bak atau tidak. Semoga kisah di atas bisa memberi kita suatu pelajaran tentang arti sebuah KASIH KARUNIA atas kita.
Amen
Tuhan Yesus Memberkati

Jumat, 06 Desember 2013

Renungan Motivasi Kristen "Maaf"

Terkadang apa yang kita lakukan baik di sengaja maupun tidak sengaja kita sering menyakiti perasaan orang lain. Mungkin apa yang kita lakukan itu menurut kita hal yang sepele. Baik di dalam bercanda, janji dgn seseorang hingga tdak di tepati, mengucapkan kata2 yang tidak wajar dan banyak lagi yang memang kita anggap itu hal yang wajar. Setelah kita menyadari apa yang kita lakukan itu dan ternyata kita telah melukai sesama kita, apa respon kita terhadap orang itu? Adakah tindakan kita untuk meminta maaf kepada orang yang kita sakiti? Ada satu kisah yang menarik dalam keluarga Bimo. Waktu itu jam sudah menunjukkan jam setengah duabelas malam. Ketika itu Bimo duduk merebahkan diri di ruang tengah selepas pulang dari kerjaannya. Tentu saja istri dan anaknya Lina sudah tertidur lelap. Tapi kenapa pintu kamar anaknya masih terbuka? Bimo tertegun saat berdiri di depan pintu kamar anaknya. Anaknya tertidur di meja belajarnya ditangan kanannya masih memegang pinsil dan sepertinya ia menulis sesuatu di buku tulisnya. Di angkatnya Lina ketempat tidur. Setelah membereskan meja belajarnya yang berantakan, namun sebelum bimo menutup buku tulisnya ia ingin melihat apa yang ditulis oleh anaknya. Bimo tertegun sejenak saat membaca tulisan-tulisannya, ternyata semuanya cerita tentang dirinya. Sampai akhirnya bimo membaca 3 lembaran terakhir yang sangat menyentuh hatinya.

Di lembaran pertama dia menulis : "Hari ini ayah tidak jadi menemaniku ke toko buku, mungkin ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Aku mengerti dengan kesibukanmu ayah." Bimo jadi teringat beberapa minggu yang lalu Lina mengajaknya ke toko buku, ia ingat sekali dengan gaya bicara anaknya yang polos. "Ayah nanti sore ada kegiatan nggak sih," sapa Lina saat ayahnya akan pergi kerja. "Ada apa sayang," jawabnya. "Ayah mau nggak menemani Lina ke toko buku?" "Kalau ayah nggak sibuk nanti sore akan ayah usahakan menemani kamu yach". balas Bimo "Terima kasih, ayah," ucap Lina dengan wajah yang sangat gembira sambil mencium pipi ayahnya. Bimo hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang lucu dan menggemaskan.

Di lembaran kedua dia menulis : "Hari ini ayah tidak jadi lagi menemaniku ke toko kaset, padahal aku ingin sekali mendengar lagunya di kamarku saat aku sedang sendiri agar aku tidak merasa sunyi. Sebenarnya aku mau ngajak ibu tapi aku ingin sekali ditemani ayah. Tapi lagi-lagi ayah sibuk". Bahasa yang sopan sekali menurut Bimo, meskipun ia tidak bisa untuk mengatakan tidak sekalipun ia tidak bisa memenuhi keinginan anaknya.

Di lembaran terakhir anaknya menulis : "Hari ini dan untuk kesekian kalinya ayah tidak bisa menemaniku. Tadi aku mengajak ayah ke pasar malam padahal ini kan hari terakhir ada pasar malam di komplekku dan aku udah janji sama Pak Mamat kalau aku akan membeli boneka yang ditawarkan tadi sore saat pak Mamat lewat depan rumahku, aku katakan pada pak Mamat kalau aku akan pergi bersama ayah ke pasar malam dan aku akan membeli boneka pak Mamat. Karena ayah masih belum pulang pasti pak Mamat sudah menjualnya. Pak Mamat maafkan Lina yah. Besok pagi akan Lina tunggu di depan rumah dan minta maaf pada pak Mamat kalau Lina tidak bisa pergi ke pasar malam. Kali ini Lina yang akan duluan meminta maaf, biasanya kan pak Mamat selalu minta maaf kalau sudah melihatku di depan rumah menanti majalah yang kupesan. Dia selalu bilang, 'maaf yah neng, pak Mamat terlambat'. Padahal menurutku pak Mamat nggak terlambat hanya aku yang terlalu cepat menunggunya. Begitu melihatku sudah menunggu dia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi. Saat kutanya kenapa sih pak Mamat selalu minta maaf padahal pak Mamat kan nggak punya salah ama Lina. 'Iya neng, Pak Mamat tidak ingin mengecewakan neng Lina kemaren kan sudah bilang kalau pak Mamat nganterin pesanan neng Lina pagi-pagi sebelum neng pergi kesekolah. Coba kalau pak Mamat datangnya kesiangan pasti neng kecewa, pak Mamat nggak ingin neng, ngecewakan orang karena kekecewaan itu akan menimbulkan luka di hati. Dan susah neng untuk menyembuhkannya kecuali kita minta maaf dengan tulus pada orang yang telah kita kecewakan'. Aku jadi ingat sama ayah, ayah tidak pernah mengucapkan maaf padaku, atau mungkin karena ayah menganggapku masih kecil atau ah, aku tidak mau berprasangka buruk terhadap ayah. Walaupun sebenarnya aku sangat kecewa dengan ayah tapi aku tidak ingin menyimpan kekecewaan itu didalam hati. Bahkan hatiku selalu terbuka untuk kata maaf ayah".

Bimo tak kuasa menitikan air matanya membaca tulisan Lina. Bimo menghampiri anaknya yang tertidur di pembaringan sambil memandangi wajahnya yang polos. Lina, anakku sayang, maafkan ayah, ternyata kau punya hati emas. Ia memang tidak pernah minta maaf pada Lina atas janji-janji yang tidak pernah dipenuhi padanya. Dan aku selalu menganggapnya dia sudah melupakannya begitu melihatnya dipagi hari wajahnya begitu cerah dan selalu tersenyum. Dan ternyata dia masih mengingatnya dalam tulisan-tulisannya. Ah, entah sudah berapa banyak goresan rasa kecewa yang ada dihatimu andai kau tidak memaafkan ayah. anakku sayang, ayah akan menunggumu sampai terbangun untuk meminta maaf kepadamu.

Kaki Cerita
Terkadang kita malu atau enggan hanya untuk sekedar mengatakan kata "maaf" dan membiarkannya menjadi goresan-goresan luka yang membekas di hati. Atau mungkin kita sering beranggapan bahwa mereka akan melupakannya setelah beberapa hari. Kalau seandainya anda juga pernah melakukan hal yang sama seperti Bimo, tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf pada orang yang pernah anda kecewakan. Jangan malu untuk melakukan hal yang benar sekalipun itu anda lakukan untuk seorang bocah, teman, orang tua, anak kita, kakak kita atau adik kita, karena mereka juga punya hati nurani. Dan seandainya mereka masih tersenyum padamu walaupun anda telah mengecewakan mereka anda harus bersyukur atas karunia itu. Semoga kita-kita semua memang tidak pernah lupa pada kata yang satu ini, 'MAAF".

Amen
Tuhan Yesus Memberkati

Sabtu, 30 November 2013

Renungan Motivasi Kristen "Arti Kasih"

Dody adalah pengusaha yang sukses. Suatu ketika ia jatuh di kamar mandi dan akhirnya ia divonis terkena stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. DI saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya. Malaikat memulai pembicaraan, "kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!
"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang", kata si Dody ini dengan yakinnya. Setelah itu malaikatpun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali merngunjunginya, dengan antusias sipengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit". Dengan lembut si Malaikat berkata, "Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktu mu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".

Tanpa menunggu reaksi Dody, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang Istri, disebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka". Kata Malaikat, "aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu"
Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 02:00 subuh." Tuhan Yesus, aku tau kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tau dia sudah menghianati pernikahan kami, aku tau dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan perpuluhan di gereja itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupin perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat".

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir dipipi Dody, timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anaknya. Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah Dody, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat! tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang! Dengan setengah berguman dia bertanya, "apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman gereja tidak ada yang berdoa buatku?" Jawab si Malaikat,'" ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah".
Dody hanya tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur dikursi sambil memangku si bungsu. Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00". Dengan terheran-heran dan tidak percaya ,Dody bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu. Bukankah itu Panti Asuhan ? kata dody pelan.
Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tau tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja kan? untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negri?
Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca dikoran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu. Tak kuasa airmata dody mengalir keras demi mendengar penjelasan sang Malaikat. Sambil menutup matanya, ia berkata, "Tuhan,ampuni anakMu ini. Aku akan mjerubah hidupku untuk mengikuti ajaranMu.Terima kasih, Engkau masih memberi kesempatan buat hambaMu yang berdosa "
Dody berjanji bahwa ia akan menyayangi anak istrinya dengan penuh kasih sayang. Dan ia pun memulai hidup baru dengan Tuhan.
Amen
Tuhan Yesus Memberkati

Kamis, 28 November 2013

Renungan Motivasi Kristen "Koruptor di Mata Tuhan"

Raja Medit memerintah sebagai Presiden di kampung nya. Untuk mempertahankan kekuasaannya dan mengamankan negerinya dari lawan politiknya. Ia memerintahkan segenap pegawai istana membangun politik nya dan mengerahkan puluhan juta rakyat pendukung nya dengan segenap kekuatan. Raja Medit juga memerintahkan kepada pegawai istananya membangun kuburan terbesar di kampung nya kelak apabila si Raja Medit Meninggal. Dan Raja Medit berpesan lagi supaya pada saat nanti beliau meninggal peti mati nya harus berlapiskan emas. Raja Medit juga memerintahkan kepada pegawai istananya untuk mencari obat yang konon menjadikan seseorang hidup abadi. Namun takdir ILAHI tidak sama dengan harapan manusia, akibat dari ambisinya Ia kemudian meninggal pada usia muda, dan kekuasaan dinastinyapun hancur. Lukas 12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."

Entah bagaimana Raja Medit sampai di pintu surga. Di sana Yesus Kristus berdiri menyambut dia, "Selamat datang di surga, adakah sesuatu yang ingin kamu katakan sebelum masuk ke surga?" "Em, bolehkah aku membawa 50 kg emasku bersamaku?" tanya si Raja Medit. Tentu saja Yesus Kristus menolak dengan tegas, tetapi si Raja Medit terus memaksa sehingga terjadi antrian panjang di pintu surga. " kata Yesus Kristus, "kamu boleh membawa emasmu. Tetapi kamu kamu membawa 10 kg saja. Bagaimana?" Si Raja Medit berpikir sejenak lalu berkata, "Baiklah, daripada tidak sama sekali," jawabnya dengan wajah lesu "Baiklah, silakan masuk ke surga" kata Yesus Kristus.Lukas 5:13 Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Lalu mulailah si Raja Medit berjalan-jalan menikmati keindahan surga. Tetapi satu hal mengganggu hatinya. Ke mana pun dia pergi, dia melihat jalan yang dilalui terbuat dari emas. Tiba-tiba dia merasa bodoh dan ingin membuang emas yang selalu digendongnya ke mana-mana. Dia melihat ke kiri dan kanan lalu berniat meninggalkan emasnya di suatu pojok yang agak tersembunyi. Saat dia akan meletakkan emasnya, tiba-tiba ada sebuah suara yang bergemuruh di langit "TOLONG JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN!" Ternyata emasnya Raja Medit hanya menjadi sampah di surga.Amsal 28:25 Orang yang loba, menimbulkan pertengkaran, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, diberi kelimpahan.

Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 19:21)

Apa gunanya Kaya di dunia kalau hasil Korupsi, tetapi kehilangan Belas Kasihan ?.......
Dan apakah yang dapat di berikan Koruptor sebagai ganti Belas Kasihan?......

Pertanyaan Tuhan Yesus Kristus (TYK) Di Sorga Adalah

1. TYK bertanya apakah harta saudara mengendalikan hidup Saudara.
2. TYK bertanya apakah Saudara mengumpulkan harta secara halal.
3. TYK bertanya berapa banyak orang yang tertolong dengan harta saudara.
4. TYK bertanya tentang karakter dan perbuatan Saudara.

Ayub 1:21 katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" TYKM

Kisah Kehidupan Anak Tuhan


Adalah seorang tukang sepatu yang bernama Martin Avdeich, dia tinggal di satu apartemen bawah tanah dengan satu jendela kecil. Dari jendela itulah dia bisa melihat orang yang lalu lalang dari kakinya. Martin yang karena pekerjaannya sebagai tukang sepatu, tidaklah sulit buat dia mengenali orang yang lalu lalang itu dari sepatu yang dipakainya. Martin adalah pekerja keras, dia tidak pernah menipu pelanggannya, dia selalu menggunakan bahan terpilih untuk membuat sepatu, dia juga selalu tepat janji, pendek kata Martin selain pekerja keras juga pekerja yang baik.

Martin pernah mengalami kekecewaan dengan Tuhan saat istri dan anak-anaknya meninggal, di tengah kekecewaannya dia pernah minta supaya Tuhan juga memanggilnya, karena dia sudah tidak melihat arti hidupnya ini. Di saat keadaan yang paling susah itulah dia bertemu orang yang mengingatkan kalau Tuhan sudah memberinya hidup, dan mengingatkan Martin bahwa hidupnya harus diberikan kepada Tuhan. Di tengah ketidak mengertiannya dan usahanya bagaimana caranya memberikan hidup untuk Tuhan, tiba-tiba dia bermimpi, mendengar suara Tuhan, "Martin ... Martin .. berjaga-jagalah Aku akan datang ke tempatmu esok".

Besoknya Martin menanti-nanti. Kadang-kadang ia berpikir suara itu hanya mimpi, kadang-kadang ia meyakini ia benar-benar mendengar suara itu. Martin duduk di samping jendelanya sambil bekerja. Tiap kali dia menatap ke jalan menunggu Tuhan datang. Akhirnya dari jendelanya Martin melihat orang berpakaian usang, dengan sepatu penuh jahitan dan sebuah sekop di tangan. Dari sepatunya Martin tahu bahwa orang tua itu Stephanich, orang miskin yang menumpang di rumah orang lain dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil seperti membersihkan salju. Ia mulai membersihkan salju di depan jendela Martin. Martin mengamati Stephanich sampai Stepanich meletakkan sekop, dan kelihatan menggigil mencari tempat istirahat dan berlindung dari hawa dingin. Orang tua ini kelihatan sangat rapuh. Martin mengundangnya masuk. Stephanich begitu gemetar sampai hampir jatuh waktu masuk. "Masuklah ke dalam dan aku punya teh hangat," demikian seru Martin kepada Stepanich. Stepanich yang ragu-ragu masuk ke rumahnya bertanya apakah Martin sedang menunggu seseorang? Martin menjawab, "Saya sebenarnya malu untuk mengatakan pada anda bahwa memang saya sedang menunggu Tuhan, seperti yang saya pahami melalui Alkitab bahwa betapa betapa besar kasih Tuhan sampai Dia mau turun ke bumi". Begitulah Martin bukan hanya memberikan teh tetapi juga bagian makan siangnya yang sangat sederhana. Stephanich pamit dengan air mata di pipi karena rasa terimakasihnya yang dalam.

Martin menunggu lagi. Berbagai orang lewat lalu lalang. Tuhan belum juga muncul. Sampai dilihatnya seorang wanita miskin dengan bayinya. Wanita ini hanya berpakaian musim panas, wanita ini tidak punya uang untuk menebus syal nya yang digadaikan. Martin bangkit dan memanggil wanita itu untuk masuk kerumahnya. Martin menyambut wanita dan bayinya ini. Memasak bubur untuk bayi itu dari persediaannya yang tipis dan memberikan uang kepada wanita itu supaya ia bisa menebus syal yang dia gadaikan untuk memberi makan bayinya. Ia juga memberikan satu-satunya mantel cadangannya yang juga sudah tua dan benangnya yang sudah menipis. Wanita miskin tersebut mengambil pemberian Martin dengan air mata yang berlinang.

Martin, duduk lagi. Hari mulai sore. Dia makan sisa makanan yang masih tersedia, bekerja lagi. Tapi dia tetap berkali-kali memandang ke jalan. Menunggu dan menunggu datangnya Tuhan.
Tidak lama seorang wanita tua penjual apel lewat. Punggungnya menggendong kayu bakar, dan tangannya menjinjing keranjang dagangan yang hanya berisi beberapa butir apel. Kayu bakarnya sangat berat sehingga ia berhenti, membetulkan gendongannya. Ia meletakkan keranjangnya di tanah. Tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil lari dan mengambil beberapa apel. Tapi nenek ini dengan cekatan menjambret baju anak itu.
Nenek itu menarik rambut anak kecil itu dan berteriak akan membawa dia ke kantor polisi. Martin meminta-minta agar si nenek tidak membawa anak itu ke polisi. Martin akan membayar apelnya.
Akhirnya nenek melepaskan pegangannya dan anak itu langsung melarikan diri. Martin menangkapnya dan berkata, "Mintalah maaf kepada nenek itu, dan saya tidak ingin melihat engkau mengambil apelnya lagi".
Anak itu minta maaf. Malahan dia menawarkan diri mengangkat kayu bakar si nenek. Mereka berjalan berdampingan.

Martin menunggu. Hari mulai malam. "Tampaknya hari sudah gelap", pikir Martin. Dia membersihkan peralatannya. Menyalakan lampu. Mengambil Alkitabnya. Dan dia merenung menantikan Tuhan. Tetapi sudah malam., apakah Tuhan masih akan datang?
Martin kembali merenung akan mimpinya yang mendengar suara Tuhan, kalau Dia akan datang kerumahnya... Tiba -tiba dia mengalami situasi yang sama dalam mimpinya, dia mendengar lagi suara yang berkata di telinganya "Martin ... Martin, apakah kamu tidak mengenal aku?"
"Siapa?" tanya Martin ,
"Aku", jawab suara itu. Di tengah kegelapan malam Martin melalui kaca jendelanya samar-samar melihat Stephanich yang tersenyum.
"Ini adalah Aku", terdengar ada suara itu lagi, dan Martin sama-samar melihat wanita tua dan bayinya dan lenyap.
"Ini adalah Aku", terdengar suara lagi, dan Martin samar-samar melihat wanita tua dan apelnya bersama dengan anak laki-laki.
Melihat itu jiwa Martin gembira karena dia teringat apa yang tertulis di Alkitabnya, "Sebab pada waktu Aku lapar, kalian memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kalian memberi Aku minum. Aku seorang asing, kalian menerima Aku di rumahmu. Aku tidak berpakaian, kalian memberikan Aku pakaian. Aku sakit, kalian merawat Aku. Aku dipenjarakan, kalian menolong Aku."
Impian Martin menjadi kenyataan, Tuhan memang sudah datang dan makan bersamanya hari itu. Martin akhirnya boleh mengerti, "Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku."

Jikalau 2000 tahun yang lalu Tuhan hadir ke dunia dalam bayi Jesus, saat ini Tuhan bisa hadir diantara kita melalui orang -orang di sekitar kita, bukalah pintu hati kita, sama seperti Martin Avdeich yang selalu menyambut hangat sesamanya.
Yesus tidak meninggalkan kerajaan Allah di Sorga ketika Dia datang ke bumi. Justru sebaliknya, Dia membawa kerajaan itu bersamaNya untuk menghadirkannya di bumi. Jadi, jika Anda adalah orang yang percaya kepada Yesus, pastikan juga bahwa kita juga merasakan kerajaan Allah di bumi. Dan pastikan juga bahwa kita menghadirkan kerajaan Allah itu di setiap aspek kehidupan kita.
Cerita ini diambil dari "Where Love Is, God Is" karangan Leo Tolstoy, 1885.

Sabtu, 06 Juli 2013

Kisah Yue-Yue yang Tragis dan Diabaikan 18 Orang

Yue Yue bocah yang berusia 2 tahun menjadi korban tabrak lari di pasar grosir di China selatan kemungkinan akan tetap dalam keadaan koma, menurut dokter senior di rumah sakit yang merawatnya.
Qu fei fei, ibu Yue Yue, dalam penderitaan emosional berbicara tentang anaknya yang telah dinyatakan mati otak. Dia mengatakan kepada anak perempuannya: “Jangan menyerah , ibu tidak menyerah untuk menyembuhkanmu, biarkan ibu memiliki satu kesempatan lagi untuk mencintai dan memanjakan Anda ”
Kejadian ini membangkitkan kemarahan orang-orang di China dan di seluruh dunia pada hari Selasa (18/10), menimbulkan tanda tanya besar apakah keajaiban ekonomi China telah membuat hilangnya moral dalam kebangkitannya.
Yue Yue dibiarkan tergeletak di jalan oleh 18 orang yang lewat setelah akhirnya ditolong dan diselamatkan oleh orang ke-19 kini tetap dalam kondisi kritis di unit perawatan intensif rumah sakit militer Guangzhou jantung industri Guangdong China.
Kepala bedah saraf rumah sakit, dikutip oleh surat kabar harian lokal Guangzhou, mengatakan bahwa Yue Yue menderita cedera parah di kepala dan sedang koma, hanya mampu bernapas dengan bantuan ventilator.
Wang Weiming, kepala departemen bedah saraf di rumah sakit militer Guangzhou, mengatakan Yue Yue menunjukkan tidak ada gejala perbaikan dan sangat tidak mungkin untuk memulihkan kemampuan mentalnya.
“Pasien in masuk kriteria kematian otak,” tambahnya, “tapi tubuhnya relatif masih memiliki refleks nyeri, sehingga dia tidak dapat dinyatakan sebagai mati otak.”
Orang tua gadis itu, yang memiliki sebuah kios kecil di pasar grosir dekat Foshan, di mana insiden itu terjadi, berjaga bergantian di samping tempat tidur putri mereka, dengan harapan bahwa ia bisa sembuh.
Ibu gadis itu, bernama Nyonya Qu, mengatakan ia pindah ke Foshan pada tahun 2003 untuk memulai usaha dan menyewa apartemen disana.
Pasangan kelas menengah ini mengatakan mereka telah dibanjiri panggilan dukungan dan menawarkan sumbangan untuk perawatan medis putri mereka, tetapi ia menolak tawaran, mengatakan mereka “sangat menghargai” tapi tidak diperlukan.
Orang tua Yue Yue menghindar menyuarakan perasaan mereka atas insiden itu, mengatakan mereka hanya ingin fokus pada pemulihan Yue Yue, tetapi kakeknya,Tuan Wang mengaku dalam surat kabar setempat bahwa dia “membenci orang berdarah dingin yang lewat.”
Ia menambahkan bahwa ia mengenal setidaknya satu orang yang lewat tersebut. “Saya ingin memukulnya, tapi akhirnya saya menahan diri,” katanya seperti dikutip di harian Southern Metropolis.
Kisah Yue Yue menyentuh kemarahan jutaan orang di China dan di seluruh dunia.
Di China, laporan video insiden itu tonton lebih dari 2 juta orang di internet dalam waktu 24 jam dan pada Sina Weibo (versi Twitter China) menarik 4,4 juta komentar pada periode yang sama, diselenggarakan di bawah slogan “akhiri sikap berdarah dingin.”
Dengan cerita tadi malam tampaknya telah memicu kampanye nasional pada Sina Weibo dibawah spanduk “Tolong Hentikan Apatisme” yang merupakan topik panas nomor satu, dengan ribuan posting menyerukan untuk kembali ke kesadaran moral di China.
“Tragedi Yue Yue tidak boleh terulang, moralitas seharusnya tidak hilang, kita harus memiliki hati nurani. Mulai hari ini, tawarkan bantuan untuk mereka yang membutuhkan anda, karena merawat orang lain adalah membantu diri sendiri,” kata panggilan untuk perubahan itu.
Diskusi publik bahkan mencapai halaman Harian Rakyat, corong Partai Komunis China yang biasanya tetap menjaga jarak dari perdebatan massal yang mencuat di papan diskusi internet China.
“Meskipun menyelamatkan orang selalu membawa ‘masalah,’ namun, mengabaikan orang sekarat atau bahkan membantu tindakan jahat dengan kelalaian adalah merobek dasar etika masyarakat dan melunturkan rasa belas kasih yang mendalam dalam jiwa masyarakat,” tulis kolumnis senior, Li Hongbing.
Orang yang mendapat pujian dunia karena menyelamatkan Yue Yue adalah Chen Xianmei (58) yang dikatakan bekerja sebagai pembantu di siang hari dan menambah penghasilan dengan mengumpulkan sampah untuk daur ulang pada malam hari.
Orang tua Yue Yue yang difoto bertemu wanita itu, membungkuk ‘hormat’ – sebuah ekspresi publik untuk berterima kasih bahwa dia telah berhenti untuk membantu putri mereka ketika begitu banyak orang berjalan mengabaikannya.
Wanita itu berkata dia tidak berpikir tentang risiko penuntutan berbahaya ketika dia turun tangan untuk membantu Yue Yue – alasan yang beredar secara luas di China mengapa 18 orang lainnya tidak berhenti untuk menolong.
Dia mengatakan kepada wartawan ia telah menemukan Yue Yue dengan satu mata tertutup dan satu mata lainnya terbuka menatapnya dan bergegas mencari ibunya. “Saya tidak berpikir saya mendapatkan masalah apapun saya tidak berpikir begitu banyak. Saya hanya ingin menolongnya,” katanya, sebelum kembali bekerja.
Tersangka yang melindas Yue Yue telah ditangkap, namun mengaku tidak melihat gadis kecil di jalan ‘gelap’. Dan menawarkan sejumlah uang sebelum di tangkap. Namum ditolak oleh Ayah Yue-Yue.

Kamis, 28 Maret 2013

Pohon, Daun, dan Angin

DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal ?

POHON

Orang2 memanggilku "POHON" karena aku sangat baik dalam menggambar pohon.
AKU selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku.
AKU telah berpacaran sebanyak 5 kali...
Ada satu wanita yang sangat AKU cintai..tapi AKU tidak punya keberanian untuk mengatakannya. ..
Dia tidak cantik..tidak memiliki tubuh yang sexy..
Dia sangat peduli dengan orang lain..religius tapi..dia hanya wanita biasa saja.
AKU menyukainya. .sangat menyukainya. .
Gayanya yang innocent dan apa adanya..kemandirian nya..kepandaiann ya dan kekuatannya. ..
Alasan AKU tidak mengajaknya kencan karena...
AKU merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku...
AKU takut...jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang...
AKU takut kalau gosip2 yang ada akan menyakitinya. ..
AKU merasa dia adalah "sahabatku". ..
AKU akan memilikinya tiada batasnya...tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia...
Alasan yang terakhir..membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama 3 tahun ini...
Dia tau AKU mengejar gadis2 lain dan AKU telah membuatnya menangis selama 3 tahun...
Ketika AKU mencium pacarku yang ke-2 terlihat olehnya...
Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah..."lanjutkan saja" katanya, setelah itu pergi meninggalkan kami.
Esoknya, matanya bengkak..dan merah...
AKU sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis...
but AKU tertawa...bercanda dengannya seharian di ruang itu...
Di sudut ruang itu dia menangis...dia tidak tau bahwa AKU kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.. .
Hampir 1 jam kulihat dia menangis disana....
Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. ..
Pernah sekali mereka berdua perang dingin, AKU tau bukan sifatnya untuk memulai perang dingin...
Tapi AKU masih tetap bersama pacarku...
AKU berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget...
AKU tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku...
Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya.. .
AKU tau dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia...
AKU juga sedih...
Ketika AKU putus dengan pacarku yang ke 5, AKU mengajaknya pergi...
Setelah kencan satu hari itu, AKU mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya...
Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku...
AKU cerita tentang putusnya AKU dengan pacarku...
Dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang...
AKU tau pria itu...dia sering mengejarnya selama ini...Pria yang baik, penuh energi dan menarik...
AKU tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku, AKU hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya...
Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan AKU tidak dapat menahannya.. .
Seperti ada batu yang sangat berat didadaku...AKU tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun apadaya...
Air mataku mengalir tak terasa aku menangis karenanya...
Sudah sering AKU melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya. ..
Handphoneku bergetar...ternyata ada SMS masuk...SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis...
SMS itu berbunyi,"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"

DAUN

AKU suka mengoleksi daun-daun, kenapa?
Karena AKU merasa bahwa DAUN untuk meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali membutuhkan banyak kekuatan.
Selama 3 thn AKU dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi "Sahabat".
Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya...
AKU mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya - CEMBURU...
Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon.
Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama 2 bulan...
Ketika mereka putus, AKU menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya.
Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi...
AKU menyukainya dan AKU tau bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya?
Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah?
Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku sedih...
Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sedih dan kecewa...
AKU mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan...
Tapi..mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekedar seorang teman?
Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati...AKU tau kesukaannya.
..kebiasaannya. ..
Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui...
Kau tidak mengharapkan AKU seorang wanita untuk mengatakannya bukan ?
Diluar itu, AKU mau tetap disampingnya. ..memberinya perhatian...
menemani. ..dan mencintainya. ..
Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku. ..
Hal itu seperti menunggu telephonenya tiap malam...mengharapka n mengirimku SMS...
AKU tau sesibuk apapun dia, pasti meluangkan waktunya untuk ku...
Karena itu, AKU menunggunya. ..
3 tahun cukup berat untuk kulalui dan AKU mau menyerah...Kadang AKU berpikir untuk tetap menunggu...
Dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini...
Akhir tahun ke-3, seorang pria mengejarku.. .setiap hari dia mengejarku tanpa lelah...
Segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan dariku...
AKU berpikir...apakah aku ingin memberikan ruang kecil di hatiku untuknya ?!..
Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon...
Akhirnya, AKU sadar bahwa AKU tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil di hatiku...
AKU tau Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ketempat yang lebih baik...
Akhirnya AKU meninggalkan Pohon...tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal...
AKU sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku...
"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"

ANGIN

AKU menyukai seorang gadis bernama Daun...
karena dia sangat bergantung pada Pohon..jadi aku harus menjadi ANGIN yang kuat...
Angin akan meniup Daun terbang jauh...
Pertama kalinya..AKU melihat seseorang memperhatikan kami...
Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman2nya memerhatikan Pohon...
Ketika Pohon berbicara dengan gadis2, ada cemburu di matanya...
Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya...
Memperhatikannya menjadi kebiasaanku. ..seperti daun yang suka melihat Pohon.
Satu hari saja tak kulihat dia...AKU merasa sangat kehilangan.. .
Di sudut ruang itu, ku lihat pohon sedang memperhatikan daun...
Air mengalir di mata daun ketika Pohon pergi...
Esoknya...Ku lihat Daun di tempatnya yang biasa, sedang memperhatikan Pohon...
AKU melangkah dan tersenyum padanya...Kuambil secarik kertas..kutulis dan kuberikan padanya...
Dia sangat kaget...
Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima kertas dariku...
Esoknya...dia datang...menghampir iku dan memberikan kembali kertas itu...
Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon.
AKU melihat kearahnya... kuhampiri dengan kata2 itu...
Sangat pelan...dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku dan telp ku...
AKU tau orang yang dia cintai bukan AKU...tapi AKU akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku.. .
Selama 4 bln, AKU tlah mengucapkan kata Cinta tidak kurang dari 20x kepadanya...
Hampir tiap kali dia mengalihkan pembicaraan. ..tapi AKU tidak menyerah...
Keputusanku bulat....AKU ingin memilikinya. ..dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku....
Aku bertanya," apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?
Mengapa kau selalu membisu?"
Dia berkata, "AKU menengadahkan kepalaku"...
"Ah?" Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar...
"Aku menengadahkan kepalaku" dia berteriak...
Kuletakkan telephone... ...melompat. ...berlari seribu langkah...ke rumahnya...
Dia membuka pintu bagiku...Ku peluk erat-erat tubuhnya...
"DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"

Renungan Motivasi Kristen "Kisah Pita Kuning"

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.
Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.
Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.
Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."
Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan- pelan...kita mesti lihat apa yang akan terjadi..."
Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya...
Dia tidak melihat sehelai pita kuning...
Tidak ada sehelai pita kuning....
Tidak ada sehelai......
Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantungan di pohon beringin itu...Ooh...seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!!!
Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih lebih manis jika kita melakukan apa yang disiratkan oleh liriknya.
Yellow Ribbon
ON ROUND THE OLD OAK TREE ON ROUND THE OLD OAK TREE
I'm coming' home, I've done my time
Now I've got to know what is and isn't mine
If you received my letter telling you I'd soon be free
Then you'll know just what to do
If you still want me
If you still want me
Whoa, tie a yellow ribbon 'round the old oak tree
It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree
Bus driver, please look for me
'cause I couldn't bear to see what I might see
I'm really still in prison
And my love, she holds the key
A simple yellow ribbons what I need to set me free
I wrote and told her please
Whoa, tie a yellow ribbon round the old oak tree
It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree
Now the whole damned bus is cheering
And I can't believe I see
A hundred yellow ribbons round the old oak tree
I'm coming home
I'm coming' home, I've done my time
Now I've got to know what is and isn't mine
If you received my letter telling you I'd soon be free
Then you'll know just what to do
If you still want me
If you still want me
Whoa, tie a yellow ribbon 'round the old oak tree
It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree
Bus driver, please look for me
'cause I couldn't bear to see what I might see
I'm really still in prison
And my love, she holds the key
A simple yellow ribbons what I need to set me free
I wrote and told her please
Whoa, tie a yellow ribbon round the old oak tree
It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree
Now the whole damned bus is cheering
And I can't believe I see
A hundred yellow ribbons round the old oak tree
I'm coming home

Sabtu, 02 Maret 2013

Mungkin banyak yang dengar lagu sentuh hatiku, yang dinyanyikan oleh Maria Shandy. Akan tetapi dibalik lagu itu ternyata ada sebuah kisah yang luar biasa.
Pencipta lagu ini adalah seorang anak Tuhan, Kisah didalam lagu itu adalah milik teman sekolahnya. Temannya itu diperkosa oleh ayahnya sendiri dan menjadi gila, sehingga harus dipasung(dirantai) dirumahnya. Ia suka datang dan mendoakan anak
itu sambil sesekali menulis lirik lagu..
waktu pun berlalu…
Diapun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri. Suatu ketika anak perempuan itu menelpon dia. Tentu saja kaget bukan main, karena anak itu kan gila. Dipasung pula? kok sekarang bisa lepas? telpon pula?
Akhirnya anak perempuan itu cerita, suatu hari entah karena karat atau bagaimana rantainya lepas. Satu hal yang langsung dia ingat, dia mau bunuh ayahnya!
Tetapi saat dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata : “Kamu harus memaafkan ayah kamu.”
Tetapi anak itu tidak bisa dan dia terus menangis, memukul, dan berteriak..
Sampai akhirnya Tuhan memeluk dia dan berkata : “Aku mengasihimu”
Walaupun bergumul akhirnya anak itupun memaafkan ayahnya, mereka sekeluarga menangis dan boleh kembali hidup normal.
Dari situ lah lagu sentuh hatiku ditulis,
Betapa ku mencintai, segala yang telah terjadi
tak pernah sendiri, selalu menyertai
Betapa kumenyadari, didalam hidupku ini..
kau selalu memberi, rancangan terbaik oleh karena kasih
Bapa sentuh hatiku,
ubah hidupku, menjadi yang baru
Bagai Emas yang murni
Kau membentuk bejana hatiku
Bapa Ajarku mengerti
sebuah kasih yang selalu memberi..
Bagai air mengalir
yang tiada pernah berhenti
KasihMu ya Tuhan tak pernah berhenti..
Kisah diatas sungguh-sungguh terjadi, semoga bisa menginspirasi kita agar bisa merasakan kasih Tuhan yang luar biasa. God Bless You all

Berjalan Di Tengah Badai

Pada suatu hari, seperti biasanya aku dan ayah bekendaraan menuju ke suatu tempat. Dan aku yang mengemudi. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.
“Bagaimana Ayah? Kita berhenti?”, Aku bertanya.
“Teruslah mengemudi!”, kata Ayah.
Aku tetap menjalankan mobilku. Langit makin gelap, angin bertiup makin kencang. Hujanpun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yg diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Kulihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.
“Ayah…?”
“Teruslah mengemudi!” kata Ayah sambil terus melihat ke depan.
Aku tetap mengemudi dgn bersusah payah.
Hujan lebat menghalangi pandanganku sampai hanya berjarak beberapa meter saja.
Anginpun mengguncang-guncangkan mobil kecilku.
Aku mulai takut.
Tapi aku tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.
Setelah melewati bbrpa kilometer ke depan, kurasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang. Setelah beberapa killometer lagi, sampailah kami pd daerah yg kering & kami melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.
“Silakan kalau mau berhenti dan keluarlah”, kata Ayah tiba-tiba.
“Kenapa sekarang?”, tanyaku heran.
“Agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau berhenti di tengah badai”.
Aku berhenti dan keluar. Kulihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Aku membayangkan mereka yg terjebak di sana dan berdoa, semoga mereka selamat.
Dan aku mengerti mngapa ayah menyuruhku tetap mengemudi dan berjalan di tengah badai. Aku mlihat mreka yg berhenti dan akkhirnya  terjebak dalam ketidakpastian dan ketakutan kapan badai akan berakhir serta apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jika kita sdg menghadapi “badai” kehidupan, teruslah berjalan, jgn berhenti, jgn putus asa…Sebaliknya  teruslah berjalan dan tetap lakukan yang terbaik, serta tentunya  mengijinkan Tuhan menuntunmu, engkau pasti mampu mlewati badai itu..!

Kamis, 28 Februari 2013

Apakah kamu Benar Benar Mencintai-Ku ?

     Suatu hari aku bangun pagi-pagi sekali untuk menyaksikan matahari terbit. Sungguh keindahan Tuhan tak dapat dilukiskan dengan kata – kata. Sambil menyaksikan keindahan ciptaannya, saya memuji Tuhan atas karyaNya yang begitu indah. Saat itulah, Tuhan datang kepada saya
Dia bertanya : “Apakah kamu mencintaiKU ?”.

Aku menjawab “Tentu saja Tuhan! Engkau adalah Tuhanku dan Juru Selamatku !
Lalu Dia bertanya ” Jika kamu cacat fisik , apakah kamu masih tetap mencintaiKu?”
Aku terpana. Lalu aku melihat tanganku, kakiku, anggota-anggota tubuhku lainnya dan berpikir mengenai banyak hal yang tak mungkin kulakukan bila aku cacat fisik. Hal-hal yang kuanggap sesuatu yang sudah sewajarnya dapat aku lakukan. Lalu aku menjawab “Itu akan menjadi hal yang sulit Tuhan, tetapi aku akan tetap mencintaiMU
Lalu Tuhan bertanya lagi “Jika kamu buta, apakah kamu akan tetap mencintai ciptaan-ciptaanKU?”
Bagaimana mungkin aku mencintai sesuatu tanpa mampu melihatnya? lalu aku berpikir mengenai semua orang buta di dunia ini. Dan betapa banyak dari mereka yang masih mencintai Tuhan dan ciptaan-ciptaanNya. Lalu aku menjawab ” Aku sulit membayangkannya Tuhan, tapi aku akan tetap mencintaiMu”
Tuhan bertanya lagi ,” Jika kamu tuli apakah kamu akan tetap mendengarkan perkataan-perkataanKu?”
Bagaimana mungkin aku mendengarkan sesuatu jika aku tuli? Kemudian aku mengerti Mendengarkan perkataan -
perkataan Tuhan tidak hanya dengan menggunakan telinga kita , tetapi menggunakan hati kita. Aku menjawab ”
Itu akan menjadi hal yang sulit Tuhan, tetapi aku akan tetap mendengarkan perkataan – perkataanMu.”
Tuhan bertanya kembali “Jika kamu bisu , apakah kamu tetap memuji namaKu ?”
Bagaimana mungkin aku memuji tanpa suara? Lalu aku menyadari bahwa Tuhan mau kita memuji dari hati dan jiwa kita. Betapapun indahnya suara kita tidak pernah menjadi masalah. Dengan memuji Tuhan tidak hanya dengan nyanyian, Melainkan saat kita mengalami cobaan, kita tetap memuji Tuhan dan berterima kasih atas berkat-berkatNya. Jadi aku menjawab “Meskipun aku tidak dapat menyanyi aku akan tetap memuji namaMU”
Lalu Tuhan bertanya ” Apakah kamu sungguh-sungguh mencintaiKu?”
Dengan penuh keberanian dan keyakinan aku menjawab “Ya Tuhan ! Saya mencintaiMu karena Engkau satu-satunya Tuhan yang benar !”
“Lalu mengapa engkau berbuat dosa ?”
Aku menjawab “Karena aku hanyalah seorang manusia, aku tidak sempurna”
“Lalu mengapa pada saat-saat damai, engkau menjauh? Mengapa hanya pada saat menghadapi masalah engkau berdoa
dengan sungguh-sungguh ?”
Tidak ada jawaban. Hanya ada air mata.
Tuhan lalu melanjutkan “Mengapa hanya bernyanyi pada saat persekutuan dan retret? mengapa mencariKu hanya
pada saat penyembahan? Mengapa meminta dengan egois? Mengapa meinta tanpa didasari iman?”
Air mata terus membasahi pipiku
“Mengapa kamu malu terhadapKu? Mengapa kamu tidak menyebarkan injil? Mengapa pada saat mengalami
pencobaan, kamu berpaling pada sesama ketika aku menawarkan diriKu sebagai tempat berpaling? mengapa
membuat alasan-alasan saat Aku memberimu kesempatan untuk melayaniKU?”
Aku mencoba menjawab , tetapi tidak ada jawaban yang dapat diberikan
” Kamu telah dianugrahkan hidup. Aku menciptakanmu bukan untuk menyia-nyiakan anugerah ini. Kamu telah
dianugrahkan bakat-bakat untuk melayaniKu, tetapi kamu terus berpaling dariKU. Aku telah menyampaikan
perkataan – perkataanKU kepadamu, tetapi kamu tidak mendapatkan pengajaran. Aku telah menunjukkan
berkat-berkatKu kepadamu, tapi matamu tidak tertuju padaKu. Aku telah mendengar doa-doamu dan Aku telah
menjawab semua doamu.”
APAKAH KAMU BENAR-BENAR MENCINTAIKU ?”
Aku tidak dapat menjwab. Bagaimana mungkin aku dapat? Aku merasa amat malu. Aku tidak mempunyai alasan lagi. Apa yang dapat aku katakan tentang hal ini? Ketika hatiku telah selesai menangis aku berkata ” Mohon ampuni saya Tuhan, Aku tidak layak untuk menjadi anakMU”.
Tuhan menjawab “Itulah kasih karuniaKu, anakKU.”
Aku bertanya “Lalu mengapa Engkau terus-menerus mengampuniku? Jawab Tuhan ” Karena engkau adalah
ciptaanKu. Kamu adalah anakkKu. Aku tidak pernah mengabaikanmu. Saat engkau menangis, Aku ikut sedih
dan menangis bersamamu. Saat engkau berteriak dalam kegembiraan , Aku ikut tertawa bersamamu. Saat engkau
putus asa Aku akan menyemangatimu. Saat engkau lelah Aku akan menopangmu. Aku akan bersamamu setiap saat
dan Aku akan mencintaimu selamanya.”
Belum pernah aku menangis sekeras ini. Bagaimana mungkin aku telah berlaku sebegitu dingin padaNya?
Bagaimana mungkin aku telah menyakiti Tuhan sedemikian rupa? Aku bertanya kepada Tuhan “Seberapa besar
kasihMu padaku , Tuhan? Tuhan membentangkan kedua tanganNya. Dan mataku terpaku di kayu salib.aku
berlutut di kaki Tuhan, Juru Selamatku . Dan untuk pertama kalinya , aku benar-benar berdoa.

Senin, 17 Desember 2012

Pelaku Firman

Kisah nyata ini terjadi pada malam Natal, saat Perang Dunia I pada 1914, tepatnya di front perang bagian barat Eropa. Pada saat itu, tentara Perancis, Inggris, dan Jerman saling baku tembak. Pada malam Natal yang dingin dan gelap itu, hampir setiap prajurit merasa bosan dan muak dengan berperang, apalagi setelah berbulan-bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak, maupun orang tuanya.

Pada malam Natal, biasanya mereka berkumpul bersama seluruh anggota keluarga masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi bersama di bawah pohon terang di hadapan tungku api yang hangat.

Berbeda dengan malam Natal saat itu, di mana cuaca di luar sangat dingin dan salju pun turun dengan lebatnya, mereka bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, malah berada di antara musuh yang setiap saat bersedia menembak mati siapa saja yang bergerak.

Tiada hadiah yang menunggu selain peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makanan pun berkurang jauh sehingga hari itu pun hampir seharian mereka belum makan. Pakaian basah kuyup karena turunnya salju. Biasanya, mereka berada di lingkungan dan suasana yang hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berada di dalam lubang parit, seperti layaknya seekor tikus, jangankan bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana mereka berada saat itu basah dan becek penuh dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar saat itu selain rasa damai untuk bisa berkumpul dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Seorang tentara yang terkena tembakan merintih kesakitan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan, bahkan pemimpin mereka -- yang biasanya keras dan tegas -- entah mengapa pada malam itu tampak sangat sedih, terlihat air mata turun berlinang di pipinya, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam bulan. Kapankah perang akan berakhir? Kapankah mereka bisa pulang kembali ke rumah masing-masing? Kapankah mereka bisa kembali memeluk orang-orang yang mereka kasihi? Dan, sebuah pertanyaan besar pula, apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali bersama istri dan anak-anaknya? Entahlah ....

Tak sepatah kata pun terdengar. Suasana malam yang gelap dan dingin terasa hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan keluarganya masing-masing. Selama berjam-jam mereka duduk membisu. Tiba-tiba dari arah depan di front Jerman, cahaya kecil muncul dan bergoyang, cahaya tersebut tampak semakin nyata. Rupanya, seorang prajurit Jerman telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke atas dari parit tempat persembunyian mereka sehingga tampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.

Pada saat yang bersamaan, terdengar alunan lembut suara lagu "Stille Nacht, heilige Nacht" (Malam Kudus). Pada awalnya lagu tersebut hanya sayup-sayup terdengar, namun semakin lama, lagu yang dinyanyikan tersebut semakin jelas dan keras terdengar. Hal itu membuat para tentara yang mendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarganya yang berada jauh dari medan perang.

Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, jernih, dan merdu. Sebelum dikirim ke medan perang, prajurit Sprink adalah seorang penyanyi tenor opera yang terkenal. Rupanya, keheningan dan kegelapan suasana pada malam Natal itu telah mendorongnya untuk melepaskan emosi dengan menyanyikan lagu itu. Walaupun ia menyadari bahwa dengan menyanyikan lagu tersebut, prajurit musuh bisa mengetahui tempat persembunyian mereka.

Ia menyanyikan lagu Malam Kudus tersebut bukan di tempat persembunyianny­a, melainkan berdiri tegak, bahkan keluar dari persembunyianny­a sehingga dapat terlihat jelas oleh semua musuhnya. Melalui lagu tersebut, ia ingin menyampaikan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna Natal, yaitu berbagi rasa damai dan kasih. Untuk hal ini, ia bersedia mengorbankan jiwanya, ia bersedia mati ditembak oleh musuhnya. Namun apa yang terjadi, apakah ia ditembak mati?

Tidak! Entah mengapa, seakan-akan mukjizat terjadi, sebab pada saat yang bersamaan, semua prajurit yang berada di situ, satu demi satu keluar dari tempat persembunyianny­a masing-masing, dan mereka mulai menyanyikannya bersama. Bahkan, seorang tentara Inggris, musuh besar Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua bagpipes (alat musik Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Dengan perasaan terharu, mereka turut menyanyikan lagu Malam Kudus. Hujan air mata tak dapat dibendung -- air mata mereka yang berada jauh dari orang tua, anak, calon istri, kakak, adik, dan sahabat mereka.

Tadinya lawan sekarang menjadi kawan. Sambil saling berpelukan, mereka menyanyikan lagu Malam Kudus dalam bahasa masing-masing. Perasaan damai dan sukacita benar-benar mereka rasakan. Setelah itu, mereka meneruskan menyanyi bersama lagu "Adeste Fideles" (Hai Mari Berhimpun). Mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia, maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhan pun lenyap.

Mereka berhimpun bersama musuh mereka, yang seharusnya saling tembak, saling bunuh, namun dalam suasana Natal itu mereka bisa berkumpul dan menyembah, memperingati Sang Bayi, Sang Juru Selamat. Rupanya, inilah mukjizat Natal yang benar-benar membawa suasana damai di malam yang suci ini.

Doa:

Aku sangat berharap, kiranya melalui tulisan ini, kita dapat membagikan kasih dan kedamaian kepada orang lain, serta mengajak kita semua untuk merenungkan kembali makna Natal. Apabila di antara kita masih menyimpan luka batin, marilah kita mengambil kesempatan pada hari Natal ini untuk saling memaafkan dan mendoakan satu sama lain, dan biarlah damai Kristus bertakhta di hati kita.

"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9).

Ya, Tuhan, Engkau menyinari malam suci ini

dengan cahaya damai-Mu.

Ajarilah kami untuk melihat kedamaian

yang seharusnya kami cari,

kedamaian yang seharusnya kami jaga,

dan kedamaian yang harus kami bagi.

Semoga hari ini dan setiap hari,

menjadi seperti hari Natal,

seperti Engkau mengilhami diri kami untuk membawa damai

dan pengampunan bagi semua orang yang kami jumpai.

Terima kasih untuk kelahiran-Mu di dunia ini Tuhan Yesus,

kelahiran-Mu membawa keajaiban bagi dunia ini

dan bagi hidup kami.

Segala pujian, hormat, dan syukur kami naikkan bagi-Mu,

Yesus Kristus, Sang Raja.

Amin.
Salam sukses n S̤̥̈̊є̲̣̥є̲̣̣̣̥♍ªªªηGªª†̥†̥̥
°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°
ĞŌĐ•O:)•(*)ßĹЄŠŠ(*)•O:)•¥ŌŬ †̥†̥̥ Uz

Rabu, 12 Desember 2012

Kasih Sayang Ibu

Ada seorang Ibu yang baru melahirkan di sebuah rumah sakit Bersalin. Sang ibu berkata "Bisa saya melihat bayi saya?". Ketika gendongan itu berpindah ketangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil, sang ibu menahan nafasnya. Suaminya mendekati istri yang sempat kaget. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu ternyata terlahir tanpa kedua belah telinga!Sang ibu sangat shock ketika melihat anaknya lahir tanpa kedua telinga. Demikian juga sang ayah saat melihat anaknya yang baru lahir. “Bersabarlah Bapak dan Ibu, anak yang dilahirkan ini adalah anugerah yang sangat besar dari Yang Maha Kuasa. Saya yakin kelak anak ini memberikan kebahagian dan kesejukan hati kepada Bapak dan Ibu. Jagalah dan besarkanlah anak ini dengan penuh kasih sayang dari kalian berdua” Pesan dokter kepada suami istri. waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya saja penampilannya tampak aneh dan buruk.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya dipelukan sang ibu dan menangis terisak- isak.
"Tadi ada seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh," ujarnya. Mendengar penuturan anaknya, sang ibu merasa sedih dan sesak hatinya. Karena malunya dengan teman-teman sebayanya, sang anak tidak mau keluar rumah untuk bergaul.
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Walau tidak memiliki daun telinga, ia cukup tampan dan disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya dibidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Dalam hati sang ibu merasa bangga dan juga kasihan dengan keadaan anaknya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan daun telinga untuk putranya. "Saya yakin mampu sepasang daun telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Setelah di cari-cari belum juga menemukan yang bisa mendonorkan telinganya.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu kerumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata sang ayah. Operasi berjalan dengan sukses. Dengan adanya telinga, maka ia semakin percaya diri. Bakat musiknya pun semakin hebat. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Ia sekarang menjadi sorotan bagi kaum wanita dengan penampilannya yang sempurna kini.

Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayah dan ibunya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini." sang ibu hanya tersenyum melihat anaknya.
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal karena terserang kanker. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang yang terbujur kaku itu, lalu menyibakkan sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.
"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya. Dengan alasan itu juga ia bisa mengorbankan telinganya untukmu,nak" bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?" Demi melihat dan mendengar ayahnya, sang anak hanya terdiam dan hanya terisak dengan kasih besar ibunya. Dengan masih menangis, sang anak lalu mengecup kening ibunya untuk yang terakhir kali.

Kaki Cerita
------------
Kisah di atas merupakan salah satu kebesaran jiwa seorang ibu. Sungguh besar pengorbanan dan kasih sayang seorang Ibu pada anaknya. Kasih Ibunya itu tidak terpatok pada sesuatu apapun jua. Pengorbanan dan kasih sayangnya pada anak dan keluarga begitu besar dan tidak dapat tergantikan dengan apapun. Kasih sayangnya, nasihatnya, dan motivasinya sungguh bermakna dan memberikan kesejukan pada anak dan keluarganya. Surga berada di telapak kaki ibu, merupakan ungkapan yang sangat indah untuk menggambarkan eksistensi seorang wanita yang telah berperan ganda dalam kehidupannya, yakni sebagai seorang Ibu dan istri yang selalu memberikan kesejukan, kedamaian, dan kebahagian pada keluarganya. Maka, hormatilah orang tua kita selama ia masih ada.

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa dilihat, namun pada apa yang tidak terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.
Tuhan Yesus Memberkati

Sabtu, 08 Desember 2012

Rahasia Kebahagiaan Ada Pada Jiwa Bersyukur

Alkisah pada suatu senja temaram, tampak seorang perempuan cantik berusia empat puluhan, berpakaian indah dan santun, turun dari mobil mewah yang ditumpangi. Dengan wajah yang tidak bahagia, dia mendatangi rumah bibinya yang berada di pinggir kota, jauh dari keramaian.
Setelah melepas kangen, sambil menarik napas panjang, perempuan itu berkata, “Bibi. Setelah anak-anak besar, saya merasa kesepian dan tidak bahagia. Saya merasakan kehidupan yang hampa dan tidak bermakna lagi.”
Sambil tersenyum bijak, tanpa berkomentar sedikit pun si bibi memanggil seorang perempuan, yang bekerja sebagai pembantu harian di rumah itu.
“Mbak Anik. Ini keponakan ibu. Datang dari kota ingin mendengar kisah bahagia. Nah, tolong diceritakan, bagaimana caranya menemukan kebahagiaan?”
Anik duduk di kursi yang ada di dekat perempuan itu, lalu mulai bercerita dengan gaya bahasanya yang lugu dan sederhana. Suaranya jernih dan jelas.
“Begini, Non. Saya pernah punya suami dan anak. Tetapi, suami saya meninggal karena kanker. Celakanya, tiga bulan kemudian putra tunggal saya menyusul bapaknya, meninggal ditabrak truk. Saat itu, saya tidak punya siapa pun. Saya enggak bisa tidur, enggak enak makan, enggak bisa tersenyum apalagi tertawa. Tiap hari selalu ada waktu untuk menangisi nasib saya yang jelek ini. Saya bahkan berpikir mau bunuh diri saja.
Lalu suatu malam, waktu pulang kerja, seekor kucing mengikuti saya. Karena di luar dingin, saya membiarkan anak kucing itu masuk ke dalam rumah. Saya memberinya susu, yang langsung habis diminum. Anak kucing itu mengeong dan menggosok-gosokkan badannya ke kaki saya. Untuk pertama kalinya dalam bulan itu, saya bisa tersenyum.
Saya sendiri merasa keheranan, lalu berpikir, jika membantu seekor anak kucing saja bisa membuat saya tersenyum, mungkin melakukan sesuatu untuk orang lain bisa membuat saya bahagia. Jadi, hari berikutnya, saya membuat kue pisang dan memberikannya ke tetangga yang lagi sakit dan tak bisa bangun dari tempat tidurnya. Dia sangat senang menerima pemberian saya dan kami pun sempat ngobrol dengan bahagia.
Setiap hari, saya mencoba berbuat baik, paling sedikit satu kali sehari berbuat baik. Karena yang saya rasakan, saat melihat orang lain bahagia, saya juga merasa bahagia. Hari ini, rasanya tidak ada orang yang bisa makan lahap dantidur pulas seperti saya. Saya menemukan kebahagiaan ketika bisa membahagiakan orang lain.”
Mendengar cerita Anik, sontak perempuan kaya itu menangis. Ia sadar, ia punya segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang, tapi dia kehilangan hal-hal yang tak bisa dibeli uang. Kekayaan yang dipunyai ternyata tidak mampu membuatnya bahagia.
Bukan kekayaan, bukan pula kedudukan dan materi yang mendatangkan kebahagiaan sejati. Tetapi jiwa bersyukurlah yang menjadi kunci pembuka kebahagiaan.
Syukur adalah magnet keberkahan! Dengan mensyukuri atas segala sesuatu yang telah kita miliki, maka kebahagiaan akan selalu mengalir di kehidupan kita. Sebaliknya jika kita tidak mampu menerima keadaan kita hari ini, sebagaimana adanya dan mensyukurinya, maka akan muncul “ketimpangan” batin. Akan terjadi gejolak ketidaknyamanan, ketidakbahagiaan, yang akan membawa kita pada penderitaan yang berkepanjangan.
Bisa bersyukur adalah “ilmu hidup” yang harus kita praktikkan. Kebahagiaan itu, bukan sekadar apa yang kita dapatkan, malah seringkali, mampu memberikan bantuan / pertolongan bagi orang yang memerlukan, dan hal itu pasti akan melahirkan kebahagiaan sejati yang alami.

Senin, 03 Desember 2012

Kebesaran Jiwa Seorang Ibu

Yabes begitu bangga dengan sosok ibunya yang memiliki Jiwa yang begtu besar. Dia mengenang di saat-saat dirinya dekat dengan ibunya sewaktu ia kecil hingga ia besar. Banyak yang Ibunya korbankan agar ia bisa menjadi anak yang kuat dan sehat bagi pertumbuhannya. Dan Karena kebesaran jiwa seorang ibu, Yabes menjadi seorang yang sukses. Kalau tanpa ibu, maka hidup Yabes tak seberuntung ini. Ada 7 kebesaran kasihnya yang Yabes alami dengan kebesaran kasih seorang ibu Sebelum ia pergi untuk selama-lamanya.

Kebesaran 1
Aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untuk aku, dikarenakan nasi yang dimasak hanya sedikit. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk aku, ibu berkata: “Makanlah nak, ibu tidak begitu lapar. Makan yang banyak agar kamu bisa cepat besar”. Untuk menambah gizi buat aku, ibu sering pergi ke sungai kecil guna mencari ikan. ibu berharap dari ikan ia dapat bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan saya. Sepulang dari kolam, ibu segera memasak ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hatiku juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan daging ikan. Biar ibu makan kepala dan tulangnya yang garing ini”

Kebesaran yang ke 2
Saat aku sudah mulai bersekolah, ibu selalu bekerja tanpa mengenal waktu hanya karena untuk membiayai sekolahku. Ibu selalu bangun pagi-pagi sekali pergi kehutan untuk menyadap getah karet. Tengah hari ibu baru pulang dengan membawa ember hasil mencari getah karet. Setelah kering, ibu membawanya kepasar untuk dijual. Sekitar 8 km jarak antara pasar dan dusunku. Sebelum ke rumah ibu menyempatkan diri untuk mencari sayuran dan ikan untuk makan malam. Habis makan malam ibu menjahit pakaian pesanan tetangga hingga larut malam. Saat ibu menjahit, aku berkata, " Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Kamu tidurlah dahulu, besok pagi-pagi harus sekolah.Ibu masih belum lelah dan mengantuk. Lagi pula pakaian ini esok mau diambil” Setelah berkata demikian, ibu merapikan tempat tidur dan mengecup keningku dan melanjutkan tugasnya.

Kebesaran ke 3
Ketika lulusan tiba, ibu diminta untuk hadir dan mengambil surat kelulusan. Ketika terik matahari mulai menyinari, ibu yang kelihatan lelah berjalan disampingku. Setelah pertemuan singkat para orang tua dan guru, Ibu dengan segera menghampiriku dan memberikan air yang ibu bawa dari rumah. Karena aku tahu ibu dari tadi belum meminum sejak dari rumah, aku berkata "Ibu minumlah lebih dahulu. Dari tadi aku belum melihat ibu minum" Dengan senyumnya yang khas sambil menyodorkan botolnya padaku, Ibu berkata "Minumlah anakku sayang, Ibu belum haus" Aku hanya memandang ibu dengan heran sambil meminum.

Kebesaran ke 4
Ibuku yang memang single parent selalu kewalahan dalam mengatur kehidupan yang dirumah.Karena gigihnya ibu bekerja, sampai-sampai ia jatuh sakit. Aku sebagai anaknya yang semata wayang begitu panik melihat ibuku yang kusayangi sakit. Lalu aku berusaha untuk membawanya ke puskesmas terdekat. Tapi seperti biasa ibu hanya berkata, "Ibu hanya demam ringan. Nanti juga sembuh sendiri" Pernah ada tetangga menganjurkan agar ibuku bisa menikah lagi. Tapi jawab ibu, "Aku ga mau hatiku terbagi dengan pria lain, biar aku berikan aja rasa sayangku ini pada anakku. Aku pun takut kalo ada ayah baru, ia nanti tidak sayang sama anakku"

Kebesaran ke 5
Setelah aku tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya istirahat. Tetapi ibu tidak mau, ia rela pergi ke hutan setiap pagi untuk menyadap getah untuk kebutuhan hidupnya. Aku yang bekerja memberika hasil kerjaku kepada ibuku untuk membantu kebutuhan kami. Tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan ia mengembalikan balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya masih punya uang. Kamu simpan aja buat keperluan kelak nanti. Kalau bisa kamu buat kuliah lagi,nak.”

Kebesaran ke 6
Atas anjurannya saya pun kuliah lagi ambil S1. Selesai S1, dimana aku bekerja di perusahan itu memberikan beasiswa untuk kuliah di kota lain. Aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di kota tersebut berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di kota besar. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa tinggal di kota besar."

Kebesaran ke 7
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “ Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan. Jangan kamu terlalu khawatir dengan ibu.Ibu sekarang sudah bisa melepasmu dengan hati lapang, karena anakku sekarang sudah dewasa dan mandiri. Ijinkan ibu pergi menyusul ayah,nak.” Aku hanya bisa menanggis melihat keadaan ibu yang tergelatak lemah.
Aku sangat terpukul dengan kepergian ibuku yang begitu cepat. Belum ia menikmati hasil dari pekerjaanku, beliau sudah pergi. Ini akan selalu kukenang. karena peran kebesaran beliau aku bisa seperti ini."Terima kasih IBU."

Kaki Cerita :
Banyak kehidupan yang di alami seseorang dengan kehadiran sosok ibu. Ada yang kagum, ada yang bangga dan tidak sedikit juga ada yang benci dengan sosok ibu. Lalu apa yang kalian alami dengan sosok seorang ibu?
Coba diingat-ingat, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon dengan ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Tuhan Yesus Memberkati

Minggu, 02 Desember 2012

"MAAFKAN AKU AYAH" (PART 2)

Seorang gadis muda tumbuh di perkebunan ceri tidak jauh dari Traverse City, Michigan. Orang tuanya sedikit kolot, cenderung bereaksi berlebihan pada cincin di hidungnya, musik yang ia dengarkan dan panjang roknya. Mereka menghukumnya beberapa kali, dan ia memendam kejengkelan dalam hati.
“Saya benci Ayah!”, teriaknya ketika ayahnya mengetuk pintu kamarnya setelah sebuah pertengkaran, dan malam itu ia menjalankan rencana yang sudah ia pikirkan puluhan kali. Ia melarikan diri. Ia baru sekali ke Detroit sebelumnya, dalam perjalanan dengan bis bersama kelompok remaja gerejanya untuk menyaksikan permainan tim Tigers. Karena surat kabar di Traverse City sering memberitakan tentang geng, obat terlarang, dan kekerasan di pusat kota Detroit dengan sangat rinci, ia menyimpulkan pasti orang tuanya tidak akan mencarinya ke sana. California mungkin, atau Florida, tapi tidak Detroit.

Pada hari kedua ia di sana, ia bertemu seorang pria yang mengemudikan mobil paling besar yang pernah dilihatnya. Pria itu menawarkan untuk mengantarnya, membelikan makan siang, dan mengatur agar ia punya tempat tinggal. Ia memberi gadis ini beberapa pil yang membuatnya belum pernah merasa seenak ini. Ternyata selama ini ia memang benar, pikir gadis itu: orangtuanya melarangnya menikmati segala kesenangan.
Kehidupan menyenangkan berlanjut satu bulan, dua bulan, setahun. Orang bermobil besar itu, ia memanggilnya BOS, mengajarinya beberapa hal yang disukai pria. Karena ia masih di bawah umur, pria membayar mahal untuknya. Ia tinggal di apartemen mewah, dan bisa memesan layanan kamar kapan saja. Sesekali ia teringat pada orang-orang di kampung halamannya, tapi hidup mereka sekarang tampak sangat membosankan dan kampungan sampai ia hampir tidak percaya ia tumbuh besar di sana. Ia sedikit takut ketika melihat fotonya di belakang kemasan susu dengan judul besar, “Apakah Anda pernah melihat anak ini?”.
Tapi sekarang rambutnya sudah pirang, dan dengan semua riasan wajah dan perhiasan yang ia kenakan, tidak akan ada yang menyangka ia masih anak-anak. Lagipula, kebanyakan temannya adalah remaja yang melarikan diri, dan tidak ada yang berkhianat di Detroit. Setelah setahun, tanda-tanda samar penyakit mulai muncul, dan ia terkejut melihat betapa cepat bosnya menjadi kejam.
“Jaman sekarang kita tidak bisa main-main,” geramnya, dan tiba-tiba saja, ia sudah berada di jalanan tanpa uang di kantungnya. Ia masih melakukan "pekerjaannya" beberapa kali semalam, tapi bayaran mereka kecil, dan semua uang itu habis untuk membiayai kecanduannya. Ketika musim dingin tiba, ia menemukan dirinya tidur di pagar logam di depan pusat pertokoan.

Suatu malam ia berbaring tanpa bisa tidur, sambil mendengarkan langkah kaki, tiba-tiaba seluruh kehidupannya tampak berbeda. Ia tidak lagi merasa menjadi wanita hebat. Ia merasa seperti anak kecil, tersesat di kota yang dingin dan menakutkan. Ia mulai menggigil. Kantungnya kosong dan ia lapar. Ia juga perlu obat terlarang. Ia melipat kakinya, dan gemetar di bawah lembaran surat kabar yang ditumpuk di atas mantelnya.
Sesuatu muncul begitu saja di pikirannya, dan satu gambaran terbayang di matanya: bulan Mei di Traverse City, ketika jutaan pohon ceri berbuah bersamaan, ia berlarian bersama anjing golden retriever miliknya. Mengejar bola tenis di antara barisan pohon berbunga. Tuhan, mengapa aku pergi, katanya dalam hati, dan rasa perih menghunjam jantungnya. Anjingku saja di rumah makan lebih enak daripada aku sekarang. Ia menangis, dan dalam sekejap ia tahu tidak ada yag lebih ia inginkan di dunia kecuali pulang. Tiga sambungan telepon, tiga kali dijawab mesin panjawab. Ia menutup telepon tanpa meninggalkan pesan dua kali pertama, tapi ketiga kalinya ia berkata, “Ayah, Ibu, ini aku. Aku berpikir mungkin aku akan pulang. Aku akan naik bis ke sana, dan aku akan sampai sekitar tengah malam besok. Kalau Ayah dan Ibu tidak datang, yah, mungkin aku akan terus naik bis sampai ke Kanada”.
Dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam dengan bis dari Detroit ke Traverse City, dan sepanjang jalan ia menyadari cacat-cacat dalam rencananya. Bagaimana kalau orangtuanya sedang keluar kota dan melewatkan pesan itu? Bukankah seharusnya ia menunggu satu dua hari sampai bisa berbicara langsung dengan mereka? Dan kalaupun mereka ada di rumah, mungkin mereka sudah lama menganggapnya mati. Seharusnya ia memberi waktu agar mereka bisa mengatasi rasa kagetnya. Pikirannya bolak-balik antara rasa khawatir dan kata-kata yang disusun untuk menyapa ayahnya.
“Ayah, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Bukan salah Ayah, semuanya salahku. Ayah, bisakah Ayah memaafkan aku?”
Ia mengucapkan pikiran itu berulang-ulang dalam hati, kerongkongannya tercekat bahkan ketika melatihnya. Sudah bertahun-tahun ia tidak minta maaf pada siapapun. Bis melaju dengan lampu menyala sejak Bay City. Butiran kecil salju yang berjatuhan di trotoar terlindas ribuan ban, dan aspal beruap. Ia lupa segelap apa malam hari disini. Seekor rusa berlari menyeberang jalan dan bis menghindarinya. Sesekali, ada billboard. Tanda yang menunjukkan jaraknya ke Traverse City. Ya, Tuhan. Ketika bis akhirnya berbelok ke stasiun, rem udaranya mendesis memprotes, pengemudi mengumumkan dengan suara serak lewat mikrofon.
“Lima belas menit, saudara-saudara. Kita hanya berhenti selama itu di sini.”
Lima belas menit untuk memutuskan hidupnya. Ia memeriksa dirinya di cermin lipat, merapikan rambutnya, dan menjilat lipstik dari giginya. Ia melihat noda tembakau di ujung-ujung jarinya dan berpikir apakah orangtuanya akan melihatnya. Kalau mereka datang. Ia berjalan ke dalam terminal. Tidak tahu harus mengharapkan apa. Tidak satu pun dari adegan yang ia siapakan di pikirannya bisa mempersiapkannya untuk apa yang dilihatnya. Di sana, di atas kursi-kursi plastik terminal bis Traverse City, Michigan, berdiri sekitar empat puluh saudara, paman, bibi, sepupu, nenek, nenek buyut. Mereka semua memakai topi kertas pesta dan gulungan kertas yang bisa ditiup, dan di dinding terminal ditempel spanduk yang dibuat dengan komputer bertuliskan, “Selamat pulang kembali!”
Di tengah kerumunan penyambut, muncul ayahnya. Ia memandang dengan mata perih dengan air mata sepanas air raksa, dan memulai sapaan yang sudah dihafalkan, “Yah, aku minta maaf. Aku tahu....Aku”
Ayahnya memotong. “Sst, Nak. Kita tidak punya waktu untuk itu. Tidak punya waktu untuk permintaan maaf. Kau akan terlambat ke pesta. Sebuah jamuan menunggumu di rumah.”
Amen

Catatan
Kisah aku minta maaf ayah yang ke 4 ini kisah terakhir dari, "aku minta maaf,ayah"
kisah yang terakhir ini memberikan suatu ajaran bagi kita sebagai seorang anak untuk berani bertanggung jawab dengan apa yang telah kita perbuat. Jangan pernah kita angap ayah yang kita takuti itu akan membunuh kita saat melakukan kesalahan. Namun, ada sisi lain juga dengan kasih seorang ayah yang bisa memaafkan apa yang anaknya perbuat meski itu sangat fatal. Dan Demikian juga bagi yang menjadi seorang ayah. Miliki hati yang mengasihi sebagai seorang ayah yang mw memaafkan anaknya, meski ia keterlaluan melakukan kesalahan. Semoga kisah di atas bisa membuka hati kita untuk berani meminta maaf dan berani juga untuk memaafkan.
Di bulan Desember kelak akan menceritakan KEBESARAN SEORANG IBU. Nantikan bulan depan dengan kisah kasih seorang ibu terhadap anak dan suaminya.

Tuhan Yesus Memberkati

Selasa, 27 November 2012

Lima Ribu

Tahun 1976, sepasang suami istri sedang melangkahkan kaki, keluar dari sebuah stasiun kereta api. Mereka baru saja tiba dari Jakarta. Dua minggu yang lalu, mereka belum membayangkan ada di tempat mereka berdiri saat ini.

Ketika ketua yayasan tempat sang suami melayani mengatakan bahwa si suami telah diangkat menjadi koordinator pelayanan misi yayasan tersebut, bukan kegembiraan atau sukacita besar yang terluap, namun kegalauan yang luar biasa. Setelah berita itu dikabarkan kepadanya, dia pulang tanpa semangat lalu menceritakan semua itu kepada istrinya.

"Ke mana kamu pergi, aku ikut." Hanya itu yang dikatakan istrinya saat suami meminta izin untuk tidak menerima keputusan yayasan tersebut kepada istrinya.

Sang suami dalam pergumulan berat. Yang dia tahu, dia membawa serta istrinya ke Jakarta bukan untuk menjadi seorang pegawai kantoran. Yang dia tahu akan pangilan Tuhan bagi dirinya adalah pergi ke sebuah tempat yang belum terjamah oleh Injil dan membangun gereja Tuhan di sana.

"Pak, saya minta ditempatkan di lapangan saja. Saat ini, panggilan bagi saya bukanlah duduk di belakang meja," kata sang suami kepada ketua yayasan.

Ketua yayasan membujuk untuk tetap menerima jabatan tersebut. Namun, dengan mantap pula si suami tetap menolak. Dua minggu kemudian, mereka pun diberangkatkan ke ujung timur pulau Jawa.

Saat ini mereka termangu di stasiun kereta. Entah mau ke mana. Tidak ada sanak saudara, tidak ada kenalan. Rencananya, mereka akan mencari penginapan terlebih dahulu, namun ternyata tidak ada satu pun penginapan di dekat stasiun, sedangkan hari sudah malam.

Mereka berjalan perlahan keluar dari stasiun. Istrinya yang kurus tetap tegak melangkahkan kaki kecilnya mengikuti langkah mantap sang suami.

Sudah lelah. Mereka pun berhenti di depan sebuah rumah. Malam sudah larut. Karena capai, sang suami memutuskan berhenti sejenak agar sang istri dapat beristirahat.

Sebuah motor perlahan mendekat. Dilihatnya kedua orang yang terlalu capai itu.

"Mau ke mana, Pak?" tanya sang pengendara motor yang telah mematikan mesin motornya.

"Hanya beristirahat sebentar, Pak," jelas si suami. "Kami mau ke daerah Genteng, tapi sudah tidak ada bis, jadinya kami jalan saja sambil mencari penginapan. Tapi nampaknya tidak ada."

"Oh, iya, di daerah sini memang tidak ada penginapan, Pak," jelas pengendara motor. "Penginapan adanya, ya di Genteng itu. Masih jauh Pak, kalau mau jalan kaki."

"Waduh, bagaimana ya?" komentar si suami.

"Menginap di rumah saya saja, Pak," kata si pengendara motor.

"Wah, terima kasih banyak, Pak," jawab si suami nyaris melompat-lompat. "Masih, jauh Pak, rumahnya?"

"Oh, tidak. Anda berdiri tepat di depan rumah saya, kok," senyum si pengendara motor. "Mari silakan masuk, istri Anda sudah terlihat sangat lelah."

"Puji Tuhan, terima kasih banyak, Pak," kata si suami dengan bibir bergetar.

Dari rumah itulah pasangan suami istri tersebut memulai pelayanan mereka. Walau hanya semalam, mereka sempat mengabarkan Kabar Baik kepada si pemilik rumah.

Keesokan harinya, mereka meninggalkan rumah tersebut. Berbekal sedikit uang jalan dari yayasan mereka pun menyewa sebuah penginapan dan mencari kamar kontrakan.

Berhari-hari tanpa hasil. Uang untuk membayar penginapan dan makan sudah hampir habis, sampai akhirnya mereka mendapatkan sebuah rumah yang hanya dihuni oleh seorang nenek. Ada sebuah kamar kosong yang sebenarnya tidak disewakan. Namun, saat suami istri ini mencari kamar kontrakan, si nenek segera menawarkan kamar di rumahnya. Rumahnya tidak bagus, hanya berdindingkan "gedhek". Namun, suami istri ini bersyukur karena ada tempat yang Tuhan sediakan untuk memulai pelayanan mereka. Nenek tidak menentukan uang sewa yang harus mereka bayar, seberapa saja boleh. Sebagian besar sisa uang yang mereka miliki pun diberikan kepada nenek. Jumlahnya tidak banyak. Si suami berjanji dalam hati, saat uang bulanan dari kantor datang, dia akan membayar lebih.

Dari rumah itu suami istri tersebut mulai berjalan kaki dari rumah ke rumah, pasar ke pasar, ladang ke ladang, untuk mencari jiwa bagi Tuhan.

Tanpa terasa, hampir satu tahun berlalu. Belum ada gereja, namun selama pelayanan tersebut, Tuhan memakai mereka menjangkau banyak jiwa. Ada empat orang petobat baru yang Tuhan izinkan untuk mereka muridkan.

Empat orang petobat baru tersebut mereka beri pelajaran dan pemahaman Alkitab. Mereka dididik pula untuk menjadi penginjil yang kelak akan meneruskan pelayanan yang telah dirintis ke berbagai pelosok desa di ujung timur pulau Jawa tersebut.

Satu hal yang menjadi pemikiran suami istri ini adalah, ketika keempat orang tersebut terbeban untuk dikader menjadi penginjil, mereka meninggalkan pekerjaan mereka sehari-hari sebagai petani maupun pedagang keliling untuk mengikuti pelajaran yang diberikan suami istri ini dan turut pula terjun di lapangan. Lalu, bagaimana mereka mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari? Sebenarnya tidak ada keluhan dari keempat orang yang mereka muridkan tersebut. Namun, tetap saja suami istri ini memikirkan hal tersebut.

Surat pun dilayangkan kepada pengurus yayasan, sekiranya keempat orang yang mereka muridkan ini dapat pula menerima berkat dari yayasan. Sambil menunggu kabar dari pengurus yayasan, suami istri ini pun memutuskan untuk membagi berkat bulanan mereka dengan keempat orang tersebut.

Saat itu, awal tahun 1977, mereka mendapatkan uang Rp 25.000 setiap bulan dari pengurus yayasan. Uang sebesar itu pun dibagi menjadi lima. Itu berarti keempat orang yang mereka muridkan mendapat uang Rp 5.000 setiap bulannya, sama besarnya dengan jumlah yang didapatkan suami istri tersebut. Mulai sejak saat itu, pasangan suami istri itu pun hidup berhemat. Jika dulu mereka bisa makan nasi, mereka pun beralih ke bubur, nasi jagung, atau tiwul. Lauk pun seadanya. Jika tidak ada lauk, mereka cukup makan dengan bubur sambal dan sayur genjer yang diambil istri dari sawah-sawah penduduk sekitar. Berbulan-bulan lamanya keadaan tetap seperti itu karena tidak ada kabar apapun pula dari pengurus yayasan mengenai usulan mereka untuk memberikan uang bulanan kepada empat orang yang telah menjadi penginjil. Si istri pun semakin kurus dan sering sakit. Pernah mereka berdua hampir menyerah karena pergumulan akan kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah lagi kebutuhan pelayanan. Mereka merasa yayasan sungguh tidak memedulikan kesulitan mereka di sana. Namun, Tuhan tidak tinggal diam. Meskipun dalam kesulitan, Tuhan tetap menghibur dan menguatkan. Ketaatan akan panggilan Tuhan memang diuji dan mereka ingin memenangkan ujian tersebut. Sesakit apapun, mereka dan empat orang murid rohani mereka, memutuskan untuk tetap taat pada panggilan Tuhan. Tuhan terus membuka jalan bagi penginjilan di ujung timur pulau Jawa tersebut. Semakin banyak jiwa dimenangkan, termasuk nenek yang menyediakan kamar untuk mereka sewa dan rumah untuk dijadikan tempat persekutuan.

Akhir tahun 1977, pihak yayasan memanggil suami istri ini untuk kembali ke Jakarta. Keadaan mendesak di kantor pusat membuat mereka harus meninggalkan tempat pelayanan itu. Empat orang penginjil baru yang telah berhasil dimuridkan pun telah siap untuk meneruskan perintisan di daerah tersebut. Dengan berat hati suami istri ini memutuskan untuk bersedia meninggalkan ujung timur pulau Jawa tersebut, ditambah lagi masih ada rasa kecewa terhadap yayasan yang seolah menutup mata akan kesulitan hidup mereka selama di lapangan. Namun, Tuhan memberikan tanda kepada mereka, bahwa cukup sudah pelayanan mereka di ujung timur pulau Jawa tersebut. Tuhan menyediakan pekerja-pekerja-Nya yang lain untuk meneruskan pelayanan mereka. Tuhan juga melembutkan hati mereka untuk memaafkan pihak yayasan.

Bertahun-tahun kemudian, sepasang suami istri ini telah menjadi orang tua dari empat orang anak dan tetap melayani Tuhan. Setiap ada kesempatan untuk pergi ke ujung timur pulau Jawa tersebut, mereka membawa serta anak-anaknya. Mereka tinggal di rumah nenek dan di kamar kecil yang mereka sewa ketika berada di sana. Mereka ingin anak-anaknya juga melihat pekerjaan Tuhan yang luar biasa di ujung timur pulau Jawa tersebut.

"Kenapa Papa senang mengajak kami liburan ke sini?" tanyaku kepada si suami yang sedang bersiap-siap lagi mengajak anak-anaknya mengunjungi sebuah gereja dari sekian banyak gereja yang telah masuk jadwal kunjungannya.

"Karena Tuhan membuat 5000 rupiah menjadi lebih dari lima ribu jiwa! Karena dari dua menjadi empat kali lima ribu jiwa!" Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku waktu mendengar jawabannya saat itu. Bukan mengerti maksudnya, namun otak kecilku tidak mampu memahami apa yang dimaksudnya.

Namun, sekarang setiap mendengar cerita si istri mengenai perintisan ujung timur pulau Jawa itu, aku tidak lagi mengangguk-anggukkan kepalaku. Aku hanya dapat termangu sambil berkata dalam hati, "Terpujilah Tuhan!"